Selasa, 22 Mei 2012

PRAKTEK KERJA LAPANGAN BALAI BESAR PENELITIAN BIOTEKNOLOGI DAN PEMULIAAN TANAMAN HUTAN

A. Deskripsi Balai Besar Penelitian Bioteknologi dan Pemuliaan Tanaman Hutan (BBPBPTH) Yogyakarta
Balai Besar Penelitian Bioteknologi dan Pemuliaan Tanaman Hutan (BBPBPTH) terbentuk melalui Permenhut no. P.38/ Menhut-II/ 2006 pada tanggal 2 Juni 2006 yang terletak di Jalan Palagan Tentara Pelajar Km 15 Purwobinangun, Pakem, Sleman, Yogyakarta. Institusi ini bekerja di bawah Badan Penelitian dan Pengembangan Kehutanan yang mengemban tugas melaksanakan penelitian dalam bidang bioteknologi dan pemuliaan tanaman hutan. Bangunan utama dan fasilitas pendukung lainnya dibangun sejak tahun 1990 menempati areal seluas 5,5 Ha merupakan hasil kerjasama Pemerintah Republik Indonesia melalui Departemen Kehutanan dengan Pemerintah Jepang melalui JICA (Japan International Coorporation Agency). BBPBPTH berperan dalam menyediakan IPTEK untuk mendukung pembangunan Hutan Tanaman maupun Hutan Rakyat terutama terkait dengan penyediaan benih unggul. Pengunaan benih unggul diharapkan dapat mempercepat rehabilitasi dan meningkatkan produktivitas serta pada akhirnya mampu meningkatkan nilai ekonomi dari Hutan Rakyat dan menurunkan resiko serangan penyakit dan hama tanaman. Sejarah BBPBPTH diawali dengan didirikannya Unit Produksi Benih di bawah Ditjen RRL yang berlokasi di Kaliurang pada tahun 1985-1990. Selanjutnya pada tahun 1990-1992 dilaksanakan pembangunan gedung dan peralatan dengan dukungan dana dari JICA yang diresmikan pada tahun 1993 oleh Menteri Kehutanan, kemudian pada tahun 1994-2000 gedung ini digunakan sebagai kantor Balai Litbang Pemuliaan Tanaman Hutan di bawah Badan Litbang Kehutanan. Kantor Balai Litbang Pemuliaan Tanaman Hutan ini berubah menjadi Pusat Litbang Bioteknologi dan Pemuliaan Tanaman Hutan (P3BPTH) pada tahun 2000 sampai 2005, sedangkan 2005 sampai 2006 kantor ini menjadi bagian dari Puslitbang Hutan Tanaman. Awal tahun 2006 sampai sekarang namanya telah disyahkan menjadi Balai Besar Penelitian Bioteknologi dan Pemuliaan Tanaman Hutan (BBPBPTH). Upaya peningkatan produktivitas hutan tanaman sengon (Paraserianthes falcataria) dilakukan melalui 2 pendekatan, yaitu peningkatan mutu genetik tanaman sengon dan peningkatan produktivitas hutan sengon rakyat. Dalam rangka memperoleh benih unggul jenis sengon (Paraserianthes falcataria), Pusat Penelitian dan Pengembangan Hutan Tanaman Yogyakarta sejak tahun 1995 telah melakukan penelitian melalui pembangunan Kebun Benih Semai Uji Keturunan (KBSUK) Sengon di Candiroto bekerjasama dengan Japan International Corporation Indonesia (JICA) dan telah menghasilkan beberapa pohon induk terseleksi. Individu-individu ini selanjutnya akan diuji kembali melalui Kebun Benih Semai Uji Keturunan Generasi Kedua Jenis Sengon. Untuk membuktikan peningkatan genetik sengon yang sesungguhnya dari KBSUK Sengon Candiroto telah dibangun Uji Perolehan Genetik Sengon (genetic gain trial) yang berlokasi di Kabupaten Kediri, sedangkan upaya peningkatan produktivitas hutan sengon rakyat akan dilakukan uji produktivitas hutan sengon dengan menitikberatkan pada aspek silvikultur. Untuk mendukung semua kegiatan uji coba, diperlukan informasi tentang pengendalian hama potensial yang menyerang tanaman sengon salah satunya dengan menggunakan varietas/klon sengon yang resisten. Beberapa aktivitas penelitian yang sedang dilakukan pada Balai Besar Penelitian Bioteknologi dan Pemuliaan Tanaman Hutan : • Uji keturunan F1 di Candiroto, dilanjutkan F2 di Kediri, Jawa Timur • Uji perolehan genetik di Kediri • Uji resistensi BBPBPTH merupakan struktur organisasi baru yang terbentuk sejak dikeluarkannya Peraturan Menteri Kehutanan Nomor : P. 38/Menhut-II/2006 tanggal 2 Juni 2006 tentang Organisasi dan Tata Kerja Departemen Kehutanan. Sejalan dengan Permenhut tersebut, BBPBPTH mempunyai tugas melaksanakan penelitian di bidang bioteknologi dan pemuliaan tanaman hutan berdasarkan kebijakan yang ditetapkan oleh Kepala Badan Litbang Kehutanan. Pelaksanaan kegiatan yang berkaitan dengan kegiatan penelitian tetap dilanjutkan berdasarkan visi dan misi yang telah ditetapkan dalam Renstra tahun 2003-2009, sedangkan untuk kegiatan non penelitian melakukan kegiatan yang menyangkut kinerja BBPBPTH terdiri dari penyelenggaraan program anggaran, kerjasama penelitian, pelayanan teknis kepada pengguna dan pemangku kepentingan, serta kegiatan evaluasi dan pelaporan. Dalam melaksanakan tugas pokok tersebut, BBPBPTH menyelenggarakan fungsi penyusunan rencana program kerja dan anggaran penelitian bidang bioteknologi dan pemuliaan tanaman hutan, pelaksanaan kerjasama penelitian dibidang bioteknologi dan pemuliaan tanaman hutan, pelaksanaan penelitian dibidang bioteknologi dan pemuliaan tanaman hutan, pemberian pelayanan informasi ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK) hasil-hasil penelitian serta layanan penelitian dibidang bioteknologi dan pemuliaan tanaman hutan, pelaksanaan pengelolaan sarana prasarana penelitian dibidang bioteknologi dan pemuliaan tanaman hutan, pelaksanaan pengelolaan kawasan hutan dengan tujuan khusus, pelaksanaan Evaluasi dan Pelaporan, serta pelaksanaan urusan tata usaha dan rumah tangga Balai Besar. BBPBPTH Yogyakarta memilki 5 laboratorium yaitu 1. Laboratorium Sifat fisika dan kimia kayu Laboratorium ini sebagai ruang analisa sifat kayu terutama untuk sifat fisika dan kimia. Informasi dari sifat fisika dan kimia kayu yang diteliti di BBPBPTH sangat diperlukan guna mengetahui karakter dan atau struktur kayu tersebut yang berguna untuk pengembangan selanjutnya sesuai dengan tujuan yang diinginkan. 2. Laboratorium Kultur Jaringan Laboratorium Kultur jaringan merupakan salah satu bagian dari kelompok peneliti (Kelti) Bioteknologi Tanaman Hutan. Di laboratorium ini dilakukan kegiatan pembiakan vegetatif mikro. Metode kultur jaringan dikembangkan untuk membantu memperbanyak tanaman, khususnya untuk tanaman yang sulit dikembangbiakkan secara generatif. Bibit yang dihasilkan dari kultur jaringan mempunyai beberapa keunggulan, antara lain: mempunyai sifat yang identik dengan induknya, dapat diperbanyak dalam jumlah yang besar sehingga tidak terlalu membutuhkan tempat yang luas, mampu menghasilkan bibit dengan jumlah besar dalam waktu yang singkat, kesehatan dan mutu bibit lebih terjamin, kecepatan tumbuh bibit lebih cepat dibandingkan dengan perbanyakan konvensional. Dengan adanya laboratorium kultur jaringan di BBPBPTH ini maka diharapkan jenis – jenis yang sedang dilakukan penelitian dan pengembangannya akan lebih mudah diketahui jenis apa saja yang bisa dikembangkan melalui metode kultur jaringan dan mempercepat produksi untuk dikembangkan lebih lanjut. 3. Laboratorium Hama dan Penyakit Laboratorium Hama dan Penyakit merupakan salah satu bagian dari kelompok peneliti (Kelti) Pemuliaan Tanaman Hutan. Di laboratorium Hama dan Penyakit ini terdapat fasilitas yang bisa dipergunakan untuk mengisolasi penyebab penyakit pada tanaman khususnya jamur. Dari bagian tanaman yang terserang penyakit diambil dan dilakukan isolasi untuk mengetahui identitas penyebab penyakit yang menyebabkan kerusakan pada tanaman. Selanjutnya dari hasil isolasi bisa dilakukan pengamatan dengan menggunakan mikroskop. Praktek Kerja Lapangan dilakukan di dalam laboratorium Hama dan Penyakit tanaman ini. 4. Laboratorium benih Selain sebagai tempat penyimpanan benih (Dry Cold Storage) di lab ini juga merupakan laboratorium untuk kegiatan riset pemuliaan jenis-jenis yang diteliti untuk menentukan strategi dan teknologi reproduksinya sebagai alat untuk menunjang kegiatan pemuliaan. 5. Laboratorium Genetika Molekuler Laboratorium genetika molekuler merupakan salah satu bagian dari kelompok peneliti (Kelti) Bioteknologi Tanaman Hutan. Di laboratorium ini dilakukan analisis secara genetik menggunakan DNA. DNA merupakan kumpulan sequence basa tertentu yang membawa sifat keturunan. Teknik analisis DNA mempunyai banyak metode. Pemilihan metode yang akan digunakan tergantung dari tujuan penelitian. Metode yang umum digunakan adalah metode RAPD karena cepat, dan mudah. Berbagai metode analisis DNA yang baru terus berkembang. Analisis DNA menggunakan mikrosatelit, MuPS dan SCAR marker telah dikembangkan di laboratorium ini. Prosedur kerja untuk semua metode tersebut pada prinsipnya sama, yaitu ekstraksi, PCR dan elektrophoresis. Perbedaan prosedur kerja tergantung sampel yang digunakan, daun atau biji, dan metode yang dipilih. Adanya suatu petunjuk lengkap yang menguraikan semua prosedur yang dilakukan di laboratorium Genetika Molekuler, akan sangat membantu keberhasilan penelitian. Kerusakan atau kerugian yang disebabkan oleh patogen, serangga, polusi udara dan kondisi alamiah lain serta aktivitas-aktivitas yang dilakukan oleh manusia dapat mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan pohon. Identifikasi tanda dan gejala dari kerusakan yang terjadi merupakan informasi yang berharga yang diperhatikan dari kondisi hutan dan indikasi yang mungkin menyebabkan penyimpangan dari kondisi yang diharapkan. Untuk monitoring kesehatan hutan, tanda-tanda dan gejala-gejala kerusakan dicatat, didefenisikan, apakah kerusakan dapat mematikan pohon atau memberi pengaruh jangka panjang terhadap kemampuan bertahan dari pohon. Tipe kerusakan biasanya sangat spesifik dan masing-masing mempunyai nilai yang spesifik juga (Irwanto, 2006) B. Penyakit Jamur Karat Tumor Uromycladium tepperianum
Gejala Penyakit 1. Gejala pada Semai Gejala pada semai sangat bervariasi, dan kadang tidak terlihat secara jelas. Infeksi jamur karat pada semai umur 2-3 minggu menyebabkan daun mengeriting, melengkung dan tidak dapat berkembang dengan normal. Apabila di sentuh, daun terasa kaku dan mudah rontok. Semai menunjukkan pertumbuhan meninggi yang sangat lambat, kering dan mudah rontok. Pada semai yang lebih tua (umur 5 minggu), gejala nampak berupa pucuk yang melengkung, bila di raba terasa agak kaku. Pucuk semai yang terinfeksi, kadang menunjukkan adanya garis putih yang memanjang, jelas atau samar-samar. Di lapangan, gejala ini nantinya akan dengan cepat berkembang membentuk gall pucuk tersebut. Menurut Rahayu (2008), bentuk gejala yang lain dapat berupa pembengkokan batang, disertai bercak warna coklat pada bagian tersebut. Dilapangan, semai semacam ini akan menghasilkan tanaman yang bentuknya tidak lurus, dan pada pembengkokan tersebut akan muncul gall, sehingga batang mudah patah bila tertiup angin.
Semai umur 3 bulan atau lebih yang belum di tanam di lapangan, kadang gall berkembang membesar dan jamur memproduksi ratusan juta spora berwarna coklat yang relatif masih aktif di permukaan gall. Spora tersebut siap diterbangkan angin dan berperan sebagai sumber inokulum bagi semai ataupun tanaman muda sehat lain disekitarnya. Gall yang telah tua dan masak, serta memiliki jaringan yang masih baik, kadang digunakan oleh serangga type penggerek batang untuk meletakkan telur, yang kemudian akan berkembang menjadi larva. Kadang, orang terkeliru karena menyangka serangga tersebutlah yang menyebabkan gall. Padahal larva tersebut hanya sebagai sekunder atau menumpang pada gall saja ( Rahayu, 2008 ). 2. Gejala di Lapangan Di lapangan, semai yang telah terinfeksi jamur U. tepperianum sejak di pesemaian, akan cepat menunjukkan gejala. Namun, kecepatan pembentukan gejala akan sangat bergantung pada lokasi penanamannya. Pada tanaman muda sebelum umur 2 tahun, gejala umumnya berupa tumor yang terbentuk pada batang atau cabang, atau pada ruas-ruas cabang. Bentuk gall sangat bervariasi. Permukaan gall yang masih baru atau segar tampak dilapisi milyaran teliospora aktif berwarna coklat kemerahan, yang siap disebarkan melalui angin ke tanaman di sekitarnya.
Sebenarnya jamur U. tepperianum hanya mampu menginfeksi jaringan-jaringan tanaman yang muda. Dengan demikian kemungkinan terjadinya infeksi baru pada jaringan tanaman dewasa di lapangan adalah sangat kecil. Gejala pada tanaman dewasa pada dasarnya berasal dari infeksi yang terjadi pada tanaman muda atau bahkan dari semai. Hanya saja, karena respon setiap tanaman berbeda, dan lingkungan mikro di sekitar tanaman juga berbeda, maka gejala yang muncul saatnya juga berbeda-beda. Pada tanaman dewasa atau tua, gall sering nampak pada tajuk tanaman, terutama pada ujung ranting muda ataupun pada tangkai daun. Gall tersebut tidak merugikan pertumbuhan tanaman inangnya, namun secara aestetika nampak kurang menyenangkan hati. Terlebih, spora aktif pada gall tersebut nantinya dapat menjadi sumber inokulum potensial bagi tanaman muda atau pada semai disekitarnya (Rahayu, 2008). Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Perkembangan Penyakit 1. Kondisi Tanaman Umumnya, semai maupun tanaman dewasa di lapangan yang tidak terserang karat tumor adalah tanaman yang memiliki kenampakan kokoh dan kuat. Walaupun demikian, tidak semua tanaman sengon yang memiliki kenampakan kuat tidak terserang oleh jamur U. tepperianum. Serangan karat tumor pada tanaman yang kokoh akan berdampak lebih kecil dibanding serangan pada tanaman yang mempunyai kenampakan lemah. Respon tanaman sengon terhadap penyakit karat tumor dipengaruhi oleh faktor genetik dari tanaman itu sendiri dan faktor lingkungan disekitar pertanaman. Benih yang berasal dari induk superior dengan karakteristik yang jelas, akan menghasilkan tanaman yang relatif kuat dan lebih toleran terhadap karat tumor. Sedangkan benih yang berasal dari sumber yang tidak jelas kualitasnya, cenderung akan memiliki respon yang buruk terhadap penyakit. Bibit sengon yang di tanam di hutan rakyat, pada umumnya diusahakan sendiri oleh petani dengan menggunakan biji yang tidak jelas asal-usul induk dan kualitasnya. Pada saat di pindahkan ke lapangan, semai akan berinteraksi dengan faktor lingkungan yang ekstrim dan beragam termasuk adanya infeksi jamur karat U. tepperianum. Hal ini akan berakibat fatal pada tanaman yang tidak memiliki kualitas baik. Di sisi lain, pada hutan tanaman yang diusahakan oleh pemerintah atau pengusaha, benih yang digunakan umumnya berasal dari sumber yang lebih jelas, meskipun belum seluruhnya menggunakan benih yang bersertifikat. Hal tersebut menjadi salah satu sebab serangan karat tumor di hutan rakyat lebih parah dan lebih bervariasi disbanding serangannya pada hutan tanaman. Namun, di sisi lain, adanya stratifikasi tajuk yang cenderung seumur dan seragam pada skala luas, menyebabkan penyebaran penyakit karat tumor di hutan tanaman menjadi lebih cepat dibanding penyebarannya di hutan rakyat (Rahayu, 2008). 2. Kondisi Lingkungan Umumnya, penyakit berkembang intensif di daerah dengan kelembaban tinggi. Adanya kabut baik di musim kemarau maupun musim penghujan berpotensi meningkatkan terjadinya penyakit karat tumor baik di pesemaian maupun di lapangan. Penyakit ini cenderung lebih cepat berkembang pada pertanaman sengon yang ternaung dibanding pada pertanaman yang terbuka. Demikian pula, adanya radiasi sinar ultra violet selama 5 jam berturut-turut, dapat menghambat perkecambahan teliospora jamur karat (Franje et al., 2001). Tanaman sengon yang tumbuh di tempat tinggi seperti di lereng bukit maupun gunung, berpeluang mendapatkan serangan karat tumor lebih besar dibanding tanaman sengon yang tumbuh di tempat rendah dan rata.Sebenarnya, ketinggian tempat bukanlah faktor utama yang dapat meningkatkan resiko terjadinya serangan jamur karat ini. Namun kondisi lingkungan seperti misalnya kelembapan yang tinggi, angin yang perlahan serta adanya kabut, umumnya terdapat di lokasi yang relatif tinggi. Pertanaman murni di hutan tanaman, mempunyai resiko yang lebih tinggi terhadap penyakit karat tumor dibanding pertanaman campuran di hutan rakyat. Namun, pengelolaan penyakit karat tumor di hutan rakyat, jauh lebih kompleks dibanding pengelolaan penyakit di hutan tanaman industri. Hal ini disebabkan lebih kompleksnya faktor yang mempengaruhi terjadinya penyakit karat tumor di hutan rakyat di banding di hutan tanaman. Dengan demikian, strategi pengendalian karat tumor di hutan rakyat perlu mendapat perhatian yang lebih besar, agar mendapatkan hasil yang optimal (Rahayu, 2007). C. Tahapan Inokulasi Spora Uromycladium tepperianum (Inokulum) pada pucuk semai Falcataria moluccana Benih sengon yang akan diuji kerentanannya terdiri dari 45 famili yaitu 40 famili dari Papua (20 famili dari Elagaima dan 20 famili dari Siba) dan 5 famili dari Jawa ( Candiroto, Karanganyar, Kediri, Wonogiri, dan Wonosobo ). Tahapan inokulasi spora U. tepperianum dimulai dengan pembuatan media tanam dan perkecambahan benih F. moluccana (Gambar 3.3a). Media yang digunakan sebagai tempat tumbuh sengon adalah tanah. Tanah tersebut dicampur dengan pupuk kemudian dimasukan ke dalam 720 pot (Gambar 3.3b). Tahap selanjutnya adalah menyiapkan 135 cawan diisi dengan tissue yang telah dibasahi dengan akuades. Sebelum ditabur, benih-benih tersebut direndam dulu dengan air yang telah dipanaskan 80ยบ C selama ± 2 menit. Kemudian cawan-cawan tersebut diisi benih dari 45 famili dengan masing-masing family 3 cawan (3 kali ulangan) dan diberi identitas menggunakan label (Gambar 3.3c). Benih-benih tersebut didiamkan selama 2 hari sampai berkecambah(Gambar 3.3d). Sambil menunggu perkecambahan, penyusunan blok-blok tiap famili dapat dilakukan dengan 4 kali ulangan tiap famili dan dengan masing-masing ulangan terdiri dari 4 unit sampel. Setelah perkecambahan jadi, kecambah-kecambah tersebut mulai disapih dengan dipindahkan kecawan petri yang berisi air kran untuk dipindahkan ke media tanah dalam pot. Setelah semua rangkaian selesai, tanaman dibiarkan tumbuh sampai berumur 2 minggu(Gambar 3.3e). Setelah berumur 2 minngu selanjutnya penyusunan blok untuk tahapan inokulasi yaitu dengan blok terdiri dari 4 blok yaitu 1 blok sebagai blok kontrol dan 3 blok lainnya adalah blok untuk inokulasi dan uji intensitas serangan U.tepperianum dipersemaian untuk pengambilan data (Gambar 3.3f).
(3.3a)
(3.3b)
(3.3c)
(3.3d)
(3.3e)
(3.3f) Setelah semua benih tertanam, uji patogenisitas dilakukan menggunakan semai F. moluccana dengan cara inokulasi pada kebun uji di BBPBPTH Yogyakarta. Sebelum pengujian dilakukan, langkah pertama yang dilakukan adalah pengenceran inokulum spora secara steril untuk dihitung dan untuk proses inokulasinya (Gambar 3.4a dan 3.4b). Setelah spora dihitung dengan haemocytometer, selanjutnya dilihat sporanya menggunakan mikroskop dan difoto (Gambar 3.4c). Spora dihitung menggunakan rumus : "Spora = " (∑▒"spora " )/(∑▒"kotak " ) x fp Keterangan : ∑▒"konidia "∶ jumlah spora pada 4 kotak sedang, ∑▒"kotak " : jumlah 4 kotak sedang Fp (Faktor pengenceran) : 105
(3.4a)
(3.4b)
(3.4c) Inokulasi dilakukan satu minggu pertama sebanyak 3 kali, yaitu pada hari ke-1, hari ke-4, dan hari ke-7 (Gambar 3.5), prosesnya adalah sebagai berikut : 1. Inokulasi I ( Hari I ), Sengon disemprot dengan air kran, selanjutnya sitetesi spora, kemudian disemprot dengan spora lagi. Jumlah spora yang didapatkan adalah : L1+L2+L3+L4 x 105 = 26+19+18+23 x 105 = 2, 15 x 106 4 4 2. Inokulasi II ( Hari IV ), Sengon hanya disemprot dengan spora. Jumlah spora yang didapatkan adalah : L1+L2+L3+L4 x 105 = 16+11+11+8 x 105 = 1, 15 x 106 4 4 3. Inokulasi III ( Hari VII ), Sengon juga hanya disemprot dengan spora. Jumlah spora yang didapatkan adalah : L1+L2+L3+L4 x 105 = 21+14+15+8 x 105 = 1, 45 x 106 4 4
(a. Sengon disemprot air)
(b. Inokulasi dengan ditetesi spora)
(c. Inokulasi dengan disemprot spora ) D. Penentuan Intensitas Serangan ( Scoring ) Scoring dilakukan satu minggu sekali dengan mengamati gejala-gejala yang ada. Tabel 3.1 Penentuan Skor di Persemaian Skor Keterangan gejala 0 Tanaman sehat, tidak ada gejala 1 Gejala awal, ada infeksi, pucuk melengkung dan kaku 2 Pucuk melengkung dan kaku, ada garis putih atau cokelat muda pada pucuk, tangkai daun dan atau batang 3 Terdapat gall pada tangkai daun, atau pucuk daun 4 Terdapat gall pada pucuk dan atau batang 5 Semai mati, kering Scoring dilakukan selama 7 minggu, dan hasil scoring tertinggi terjadi pada minggu ke-5. Hasil scoring selanjutnya digunakan untuk menghitung jumlah individu yang terserang sehingga luas serangan (LS) diketahui dan untuk menghitung intensitas serangan karat tumor (IS) pada masing-masing famili. Perhitungna LS dan IS menggunakan rumus sebagai berikut : LS = n yang terkena x 100 % n total IS = jumlah skor x 100% Skor tertinggi x banyaknya ulangan Berdasarkan hasil uji ANOVA dengan BNT 5%, luas serangan total dan intensitas serangan total didapatkan bahwa dari ketiga famili ( EL, SKW, dan Jawa) tidak berberda nyata karena F hitung < F tabel. Artinya inokulasi spora jamur U. tepperianum pada sengon tidak berpengaruh pada masing-masing famili baik yang dari Papua ( EL dan SKW) maupun dari Jawa. Sedangkan pada hasil uji ANOVA dengan BNJ 5% luas serangan menunjukkan berbeda nyata pada masing-masing famili karena F hitung > F tabel. Artinya perlakuan inokulasi berpengaruh pada masing-masing famili baik yang Elagaima ( EL1 s/d EL 20), Siba ( SKW 1 s/d SKW 20) maupun yang dari Jawa ( Candiroto, Karanganyar, Kediri, Wonogiri, dan Wonosobo). Namun untuk intensitas serangannya tidak berbeda nyata karena hasil menunjukkan F hitung < F tabel sehingga perlakuan inokulasi tidak berpengaruh pada masing-masing famili (Data hasil uji ANOVA terlampir). Berdasarkan hasil dan pembahasan di atas maka dapat diambil kesimpulan bahwa penyakit dapat menyebar karena dipengaruhi faktor internal inang, inokulum dan faktor lingkungan. Hal ini sesuai dengan pernyataan Rimbawanto ( 2008), bahwa Sebenarnya penyakit pada tanaman disebabkan oleh interaksi tiga faktor, yakni inang, penyakit dan lingkungan. Epidemi penyakit timbul bilamana ketiga faktor diatas berada dalam kondisi yang sesuai bagi perkembangan penyakit. Melihat pentingnya peran tanaman hutan, salah satunya Sengon bagi ekositem sekitar maka perlu ditingkatkan pengendaliannya terhadap penyakit yang menyerang khususnya karat tumor. Selain itu juga perlu dilakukan pemuliaan tanaman dan peningkatan ketahanan terhadap penyakit karat tumor. Pengendalian penyakit dapat dilakukan dengan cara memanipulasi salah satu atau lebih faktor-faktor tersebut sehingga tercapai kondisi yang merugikan bagi pertumbuhan penyakit dan mencegah terjadinya infeksi oleh penyakit. Pemuliaan dan peningkatan ketahanan dapat dilakukan dengan cara memanipulasi tumbuhan inang dengan meningkatkan resistensi terhadap penyakit. Hal ini dapat dicapai dengan cara pemuliaan melalui seleksi tanaman yang secara genetik resisten terhadap penyakit tertentu. Resistensi juga dapat dicapai dengan memberikan dosis fungisida yang dapat mencegah infeksi pada tanaman. Lingkungan dapat dimodifikasi agar diperoleh kondisi yang optimal bagi pertumbuhan tanaman. Misalnya dengan memperbaiki drainase tanah, mengurangi kerapatan tanaman atau memberikan pupuk yang tepat. Tanaman yang tumbuh dalam kondisi yang tertekan umumnya akan lebih rentan terhadap infeksi penyakit (Rimbawanto, 2008). lampiran foto-foto
(Lokasi persemaian)
(Teman seperjuangan seperpanasan seperngusungan dan sepermbolangan : "Khafid Mukti Wijaksana")
(Laboratorium Hama dan Penyakit )
(suka duka dikala hujan melanda)
(gall rust)
(lokasi hutan pengambilan inokulum "kaliurang")
(Bersama partner Khafid Mukti Wijaksana, Pembimbing Siti Husna Nurrohmah S.Si, dan Saniyatun Mar'atus Solihah)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar